Rupiah Kembali Melemah, Dolar Tembus Rp16.080: Ancaman Inflasi dan Intervensi BI



AmbonBisnis.com, AMBON - Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini, Rabu (8/5/2024). Pelemahan ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Penguatan Dolar AS: Indeks dolar AS menguat setelah pidato dari pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan AS.
  • Inflasi: Inflasi yang masih tinggi di Amerika Serikat menjadi tantangan bagi The Fed dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga.
  • Cadangan Devisa: Cadangan devisa Indonesia diprediksi berpotensi terkuras jauh lebih besar pada April 2024 dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, rupiah dibuka melemah 0,25% di level Rp16.080/US$1. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Pelemahan rupiah hari ini semakin memperlebar selisih nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada akhir April 2024, rupiah telah menyentuh level terlemah dalam 4 tahun di level Rp16.260/US$1.

Menanggapi pelemahan rupiah, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi besar-besaran di pasar spot, pasar forward domestik (DNDF), dan pasar surat berharga negara (SBN). Intervensi ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Pelemahan rupiah dapat berdampak negatif terhadap perekonomian Indonesia, seperti:

  • Meningkatnya inflasi: Pelemahan rupiah dapat menyebabkan harga barang impor menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya dapat mendorong inflasi.
  • Menurunnya daya beli masyarakat: Inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat, sehingga mereka akan lebih berhati-hati dalam berbelanja.
  • Terhambatnya investasi: Pelemahan rupiah dapat membuat investor asing enggan berinvestasi di Indonesia, sehingga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah dan BI diharapkan dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Hal ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. (AB001)

Baca artikel menarik lainnya dari AMBONBISNIS.COM di GOOGLE NEWS dan WA Channel